KESALAHAN-KESALAHAN BERPIKIR DALAM LOGIKA
1. Over-Generalisation :
Yaitu, penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat umum.
Kerancuan berpikir seperti ini acap kali terjadi dalam lingkungan kita.
Misalnya, ketika sebagian teroris itu adalah memeluk agama Islam. Maka dengan
serta merta Amerika dan Dunia Barat mengatakan bahwa Islam adalah teroris.
Nampaknya negara super power itu terjebak dengan apa yang kita sebut dengan
over-generalisation. Demikian pun halnya apa yang dikatakan Karen Armstrong
penulis yang terkenal itu dalam bukunya “A history of God, Nizam Press 2001”,
bahwa Tuhan telah mati, karena di Eropa gereja-gereja sudah kosong. Ini adalah
salah satu bentuk kesalahan berpikir juga, karena tidak bisa gereja yang kosong
dijadikan parameter tentang matinya Tuhan, bukankah gereja hanya milik orang
Kristen saja dan bukankah pula itu terjadi hanya di Eropa saja. Bagaimana
dengan Tuhannya orang Islam, Hindu, Budha ? bagaimana dengan gereja-gereja di
luar Eropa?.
2. Post Hoc Ergo Proter Hoc
: Inti dari kesalahan berpikir ini ketika seseorang berargumentasi dengan
menghubungkan sesuatu yang tidak berhubungan. Misalnya, ketika KH. Zainuddin MZ
dalam salah satu kegiatan tournya untuk ceramah keliling di berbagai daerah. Di
salah satu daerah sebelum beliau naik mimbar untuk berceramah hujan begitu
deras turun dan ketika ia naik untuk ceramah maka hujan pun jadi reda. Lalu
orang di dalam mesjid pada umumnya mengambil kesimpulan bahwa karena
K.H.Zainuddin MZ lah sehingga hujan menjadi reda, nampaknya para penikmat
ceramah telah terjebak dalam kesalahan berpikir tersebut.
3. Argumentum Ad Verecundiam
: Berargumentasi dengan menggunakan otoritas seseorang yang belum tentu benar
atau berhubungan demi membela kepentingannya dalam hal ini kebenaran
argumentasinya. Seperti contoh yang sangat ekstrim pada doktrin yang beredar
dalam masyarakat kita yang difatwakan Ibnu Taimiyah yang berbunyi; “Barang
siapa yang berlogika maka ia kafir” sehingga dari fatwa yang belum tentu benar
ini, seringkali saya bertemu orang yang mengambil kesimpulan bahwa karena Ibnu
Taimiyah mengharamkan logika maka kita hendaknya tidak belajar logika atau
karena Imam Al-Ghazali melarang filsafat maka haram hukumnya belajar filsafat.
Maka seluruh umat Islam jangan belajar filsafat, karena hal itu menyesatkan. Di
sini kita terjebak Argumentum Ad Verecumdiam. Adapun argumentasi tentang
ketidak-benaran kedua fatwa tersebut akan kita bahas pada pembahasan
doktrin-doktrin yang keliru.
4. Circular Reasoning :
Circular Reasoning artinya pemikiran yang berputar-putar, menggunakan
kesimpulan untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk mendukung
kesimpulan awal. Misalnya terjadi perdebatan tentang pembuktian keberadaan
Tuhan dengan mengatakan bahwa “adanya Tuhan terbukti karena adanya alam ini,
karena Tuhanlah yang menciptakan alam”. Tetapi jika ditanya, apa buktinya bahwa
alam ini Tuhan yang ciptakan ? Ya.., karena Tuhan maha pencipta maka alam ini
Tuhan yang ciptakan. Terus ditanya lagi apa bukti bahwa Tuhan maha pencipta?
Ya.., tentu saja karena adanya alam ini. Dengan jawaban seperti ini, kita akan kembali
masalah awal lagi. Perdebatan ini terus berputar di sekitar itu saja. Contoh
lain ketika seorang peserta Bastra (Basic Training) HMI berdebat dengan saya,
ia ingin membuktikan ketauhidannya dengan mengatakan bahwa “Hanya ada satu
Tuhan yakni Allah”. Dan saya balik tanya apa buktinya bahwa Allah itu satu? Ya
.., tentu saja Allah itu satu karena jika lebih dari satu Allah itu akan
berkelahi dengan Tuhan lainnya. Terus saya tanya lagi, apa buktinya jika Allah
lebih dari satu itu akan berkelahi? Ya.., tentu saja karena jika Allah satu dia
tidak akan berkelahi karena tidak ada lawannya berkelahi. Terus ditanya lagi,
apa buktinya bahwa Allah itu satu. Ya.., kalau Allah lebih dari satu ia akan
berkelahi. Yah…kembali lagi kepermasalahan awal ! Inilah contoh Circular
Reasoning. Ini sama saja pernyataan bahwa Tuhan itu terbukti adil karena jika
dia tidak adil dia bukan Tuhan. Makanya Tuhan itu terbukti adil.
5. Black and White Fallacy
: Inti dari kesalahan berfikir ini ketika seseorang melakukan penilaian atau
berargumentasi berdasarkan dua alternative saja dan menafikan alternative lain.
6. The Fallacy of Illicit Minor
: Kesalahan berfikir ini terjadi dikarenakan menghubungkan pernyataan yang
bersifat khusus dengan pernyataan yang bersifat umum dengan cara melampaui
hubungan kedua pernyataan tersebut. Misalnya, Pernyataan pertama, wajah Laskar
Jihad seram-seram. Pernyataan kedua, Laskar Jihad adalah umat Islam.
Kesimpulan, wajah umat Islam seram-seram.
7. The Fallacy of Illicit Mayor
: Kesalahan berfikir ini kebalikan dari point enam, yakni menghubungkan
pernyataan yang bersifat umum dengan pernyataan yang bersifat khusus meskipun
melampaui hubungan keduanya. Contoh ; Premis pertama : Manusia bisa salah.
Premis kedua : Muhammad SAW manusia. Kesimpulan : Muhammad SAW bisa salah.
Bandingkan Premis pertama : Manusia bisa benar. Premis kedua : Fir’aun manusia.
Kesimpulan : Fir’aun bisa benar. Dan apakah ini berarti Fir’aun pasti benar.
Dan jika premis ini kita terima berarti, Al Qur’an pun menjadi bisa salah yang
memastikan Fir’aun salah, yang ternyata Fir’aunnya bisa benar.
8. Argumentum Ad Miseria :
Kesalahan berfikir karena menarik kesimpulan dengan berdasarkan rasa kasihan
tanpa berdasarkan bukti. Misalnya, “memang benar Soeharto itu korupsi, tetapi
dia kan juga mantan Presiden kita.
9. The Fallacy Of The
Undistrubed Midle Term : Kesalahan berfikir karena orang yang mengambil
kesimpulan tidak melakukan sesuatu apapun selain menghubungkan dua ide dengan
ide ketiga, dan dalam kesimpulannya orang yang mengambil ide mengklaim bahwa
telah menghubungkan satu sama lain. Misalnya, Katolik percaya adanya sistem
kependetaan yang harus diikuti. Islam percaya adanya sistem keulamaan yang
harus diikuti. Jadi Islam itu identik dengan Katolik, ini sama saja dengan
kesalahan kesimpulan premis berikut; jika 2+2 = 4 dan 100-96 = 4 maka 2+2 itu
identik dengan 100-96. Atau Islam percaya sama Tuhan, Hindu percaya sama Tuhan,
apakah ini berarti Islam dan Hindu identik?.
10. Fallacy Determinisme
Paranoid : Pada umumnya istilah paranoid kita kenal dalam disiplin ilmu
psikologi. Yaitu suatu kondisi kejiwaan seseorang yang merasakan rasa takut
yang berlebihan tanpa alasan yang patut dibenarkan. Biasanya kasus ini kita
temukan pada orang yang trauma atau memakai sabu-sabu (salah satu jenis
narkoba). Tetapi dalam kesempatan ini kita membahas paranoid yang timbul karena
kesalahan berfikir, yakni adanya rasa takut yang berlebihan karena tekanan
kebodohannya. Contohnya sederhana dalam salah satu pengkaderan yang dilakukan
MPM (Mahasiswa Pencinta Musallah) biasanya disebut dengan istilah pesantren
kilat, dimana sedini awal ditanamkan (didoktrin) agar jangan baca buku-buku
penerbit Mizan, Lentera, dan buku-buku Kiri!. Nanti kamu sesat !, Setelah kita
mengetahui beberapa kesalahan berfikir cukuplah kiranya bagi kita untuk tidak
melakukannya lagi. Karena ibarat sebuah semesta himpunan yang memiliki anggota
seluruh peristiwa yang terjadi dalam diri kita, kemudian dalam diagram venn itu
di tengah-tengahnya terdapat himpunan peristiwa yang berdasarkan akal, sedang
di luar himpunan itu adalah negasinya, yaitu himpunan peristiwa yang
berdasarkan setan. Dengan mengetahui hal-hal yang berdasarkan setan, kita bisa
menarik garis pembatas lingkaran yang ada di pusat ini menjadi batas dari akal
dan setan. Dan dengan mengetahui garis pembatas ini, dimasa depan kita tidak
bakalan terbujuk lagi dengan setan dalam bentuk kesalahan-kesalahan berfikir